Just another WordPress.com site

Makalah Broadband

Pendahuluan

Lebih jauh dalam tipe jaringan umum yang sudah dibahas pada pelajaran sebelumnya, pada umumnya, tidak mampu mentransmisikan data dengan kecepatan tinggi. Dengan mentransmisikan data pda jaringan analog biasanya dibatasi dengan kecepatan diantara 300 dan 19,200 bit setiap detik. Jaringan digital dan ISDN mengembangkan kapasitas sirkuit kawat coper tunggal transmisi basic sampai 144,000 bit perdetik. Tetapi bila pengenalan digital secara luas dan proposal asli CCITT pada awal tahun 1980 untuk ISDN, pengembangan dalam telekomunikasi dan pengkomputeran telah memulai pencapain ini.

Konsep Dasar Broadband

Definisi umum broadband adalah proses pengiriman dan penerimaan data melalui sistem jaringan telekomunikasi dengan kecepatan tinggi. Umumnya kecepatan mulai dari 256 kbps sampai dengan 100 Mbps yang terhubung dengan perangkat pengguna/pelanggan disebut broadband.
Definisi broadband tidak ada yang spesifik, namun yang sama adalah dalam penggunaan kata “kecepatan tinggi” (high speed). Menurut ITU-T, kecepatan tinggi broadband melampai kecepatan ISDN-PRA (> 2 Mbps), sementara di negara India kecepatan tinggi broadband adalah 128 Kbps.
Sesuai dengan perkembangan teknologi multimedia maka kebutuhan bandwidth untuk satu pelanggan saat ini diperkirakan sekitar 14 Mbps dengan alokasi internet 2 Mbps, data 4 Mbps, HDTV 8 Mbps. Saat ini, di Indonesia, broadband provider hanya menyediakan infrastruktur (broadband access) dengan kecepatan 64/384 Kbps s/d 128/512 Kbps. Kecepatan pengiriman data dari pelanggan ke server (upload) selalui lebih kecil dari penerimaan data dari server (download). Contoh 64/384 Kbps artinya upload speed 64 Kbps dan download speed 384 Kbps.
Kenapa kecepatan upload < download, alasan utama bahwa pengguna layanan internet pada umumnya melakukan hubungan ke dunia maya (internet browsing) untuk mendapatkan informasi yang disimpan diberbagai server. Bila informasi sesuai maka pengguna meminta server mengrimkan informasi yang dikonversi kedalam bentuk data ke terminal pengguna (komputer/laptop/smartphone/STB TV). Kapasitas data tergantung pada informasi, sebagai contoh 1 lagu&musik dalam format MP3 setara dengan 4-5 Mbytes, photo digital ukuran postcard dalam format JPEG sekitar 600-700 Kbytes.

Definisi Broadband

Broadband  merupakan sebuah istilah dalam internet yang merupakan koneksi internet transmisi data kecepatan tinggi. Ada dua jenis jalur lebar yang umum, yaitu DSL dan kabel modem, yang mampu mentransfer 512 kbps atau lebih, kira-kira 9 kali lebih cepat dari modem yang menggunakan kabel telepon standar.
Akses internet jalur lebar menjadi pasar yang tumbuh dengan cepat dalam banyak bidang di awal 2000-an; satu penelitian menemukan bahwa penggunaan internet jalurlebar di Amerika Serikat tumbuh dari 6% pada Juni 2000 ke nyaris 30% pada 2003.
Beberapa implementasi modern dari jalur lebar telah mencapai 20 Mbit/detik, beberapa ratus kali lebih cepat dari yang ada pada awal internet dan biayanya juga lebih murah; meskipun begitu biaya dan performa bervariasi di berbagai negara.

Sejarah Broadband


Perkembangan layanan broadband ini boleh dikata sangat pesat. Lihat saja, peningkatan jumlah pelanggannya dari waktu ke waktu. Diperkirakan jumlah pelanggan broadband dunia akan meningkat tajam, dari hanya sekitar 100 juta akhir 2003 (123 juta pertengahan 2004) meningkat menjadi sekitar 325 juta pelanggan pada 2008, seperti diungkapkan hasil riset terbaru Yankee Group.

Dari 325 juta pelanggan itu, sekitar 200 juta di antaranya menggunakan DSL ( digital subscriber line ), atau meningkat secara tajam dari hanya sekitar 85 juta akhir tahun 2004. DSL Forum malah berani memperkirakan waktu yang lebih cepat, yakni pada akhir 2005, jumlah pelanggan broadband telah mencapai 200 juta. Perkembangan layanan DSL ini, menurut Yankee Group, terutama, dipicu oleh perkembangan di kawasan Asia-Pasifik. Pertumbuhan jumlah pelanggan DSL di kawasan Asia Timur dan Selatan, misalnya, meningkat 110%.

eMarketer mengestimasikan bahwa pada 2007 mendatang, di seluruh dunia akan ada sebanyak 250 juta pelanggan broadband. Selain itu, tak kurang dari 500 juta pengguna broadband akan mengakses Internet dari rumah, tempat kerja, sekolah dan berbagai lokasi strategis lainnya.

Sedang, di Afrika dan Timur Tengah meningkat 107%, serta di Amerika Latin meningkat 104%. Pengguna DSL di Asia Pasifik diharapkan akan meningkat sekitar 20 sampai 30 juta setiap tahun, sementara yang menggunakan cable modem sekitar 8 juta setiap tahunnya.

Penerapan DSL yang paling padat di kawasan Asia Timur dipimpin oleh Korea Selatan. Dengan jumlah penduduk mencapai 48,6 juta jiwa, dimana 10 juta penduduknya bermukim di Seoul, pada 2004 pengguna Internetnya telah mencapai 35,7 juta. Pada saat yang sama, dari jumlah itu, 84 persennya (30 juta) merupakan pelanggan broadband, baik menggunakan DSL maupun cable modem . Tahun 2008 mendatang target untuk mencapai 100% pelanggan broadband tampaknya akan tercapai, ujar Min Won-ki, Direktur, Divisi Kebijakan Internasional , Kementerian Informasi dan Komunikasi , Korea Selatan.

Di Jepang, akhir 2003, jumlah pelanggan broadband-nya diperkirakan sudah mencapai 15 juta orang dan tahun 2004 sebesar 16,2 juta. Sedang di China, jumlah pelanggan broadband via DSL telah meningkat dua kali lipat menjadi 13 juta. Pada Juni 2004, menurut data CNNIC ( China Internet Network Information Center ), jumlahnya telah mencapai 31,1 juta. Hal itu, antara lain dipicu penggunaanya oleh berkembangnya kafe-kafe Internet yang jumlah mencapai 110.000 kafe di seluruh China. Menurut analis industri, David Greggains, pertumbuhan itu memang luar biasa, namun begitu jumlahnya hanya sekitar 6% dari total 217 juta pelanggan telepon China.

Di Indonesia, pengguna Internet diperkirakan sebesar 8 juta, sedang pengguna broadbandnya relatif masih sedikit. Sementara Singapura, negara berpenduduk 4,2 juta, dikabarkan telah memiliki sekitar 40% rumah tangga yang terhubung ke Internet menggunakan teknologi broadband. Meskipun harga layanan broadband di Singapura lebih mahal jika dibandingkan dengan di negara-negara maju, seperti Jepang dan Korea Selatan.

Untuk kawasan Asia Pasifik, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Cina dan Australia. Cina mencatat pertumbuhan 58%, sedang Australia 50%, sehingga jumlah penggunanya telah lebih dari sejuta.

Sementara di Amerika Serikat, dari 28,3 juta pelanggan akhir 2003 (data ITU), pada July 2004 menurut riset Nielsen/NetRatings jumlah pengguna broadband telah meningkat menjadi 63 juta, atau 51 persen dari total pengguna Internet. Pengguna Internetnya sendiri meningkat 10% dari 113 juta pada 2003 menjadi 124 juta pada July 2004. Menurut laporan Federal Communications Commission (FCC), jumlah pelanggan broadbandnya tak setinggi itu, melainkan sekitar 48 juta. Jumlah penduduk Amerika sendiri tak kurang dari 281 juta jiwa (sensus tahun 2000).

Di Amerika Utara, perkembangannya juga cukup besar, yakni dari hanya sekitar 34 juta akhir 2003 menjadi sekitar 75 juta pada 2008. Jumlah itu masih akan ditambah 12 juta pengguna (4% dari pasar) dari mereka yang menggunakan akses satelit.

Di sisi lain, perkembangan broadband, diperkirakan lebih terdukung dari pengalaman banyak orang yang sebelumnya telah menggunakan Internet, meski sebagiannya langsung menikmati layanan broadband, misalnya TV kabel, tanpa pernah terkoneksi ke Internet. Saat ini, tak kurang dari 800 juta orang yang telah menggunakan Internet di seluruh dunia. Namun, jumlah itu lebih banyak terkonsentrasi di 20 negara (lihat tabel) dengan sekitar 671,3 juta pengguna. Sementara ratusan negara lainnya baru memiliki sekitar 128,7 juta pengguna. Indonesia sendiri, hingga akhir 2004 ini diperkirakan baru memiliki sekitar 8 juta pengguna, yang berarti tingkat penetrasi 3,6 persen.

Meskipun banyak negara sesungguhnya telah memiliki “backbone” bandwidth yang berlimpah, yang dapat mereka gunakan untuk mentransmisikan data dari ujung ke ujung wilayah negaranya, namun perkembangan di banyak negara mengalami hambatan atau kemajuannya relatif sangat lambat, termasuk yang terjadi di Indonesia.

Salah satu hambatannya, selalin pertimbangan investasi yang besar, juga karena selama ini lebih banyak terhenti di jalur backbone . Sedang saluran “the last mile”, yang menyampaikan layanannya hingga ke rumah-rumah atau kantor pengguna belum terbangun secara luas, sehingga belum termanfaatkan secara optimal. Juga, belum adanya dukungan yang kuat dari kalangan pemerintah, misalnya strategi pembangunan nasional dimana teknologi informasi (TI) berperan dalam implementasinya, dan hal itu tak banyak mendorong penggunaannya secara luas, baik individu maupun bisnis.

Padahal, ke depan, peran transportasi data berkapasitas besar ini dalam ekonomi tak ubahnya sebagaimana sistem transporasi yang ada saat ini, seperti tersedianya jalan raya untuk kendaran maupun jalur kereta api, begitu juga kapal laut atau pesawat terbang. Meskipun perkembangan broadband saat ini boleh dikata masih pada tahap awal, tetapi hal itu pun sudah memberi dampak yang sangat luas dalam kehidupan manusia, baik dalam berkomunikasi maupun berbinis.

Sebagaimana diungkapkan Suryatin Setiawan, Direktur Bisnis Jasa Telekomunikasi, PT TELKOM, Tbk., ke depan arah dan peta perkembangan broadband sudah jelas. Tahap-tahap kemajuannya juga sudah jelas, termasuk dukungan perangkat yang akan digunakan, apakah laptop, ponsel, PDA dan lain sebagainya, sesuai dengan komitmen industri.

Selain itu, nantinya kapasitasnya akan semakin besar dan penggunaannya akan semakin meluas, serta biayanya pun semakin terjangkau. Namun, perkembangannya juga akan sangat tergantung pada meningkat tidaknya investasi di bidang-bidang lainnya, yang akan mendorong perkembangan ekonomi nasional. Dalam koteks itu, jelas peran jaringan broadband akan sangat berperan, bukan saja meningkatkan pendapatan perusahaan-perusahaan telekomunikasi, mendukung layanan dan konten yang dibutuhkan masyarakat, melainkan juga meningkatkan berbagai aspek pembangunan ekonomi dan sosial.

Tahun 2005 tampaknya akan menjadi era broadband, era yang akan menandai berakhirnya periode awal Internet ( dial-up ), yang berkembang sejak 10 tahun lalu. Ke depan, akses Internet akan semakin banyak menggunakan broadband, sehingga tahun 2005 mendatang dianggap sebagai titik balik perkembangan Internet dunia dengan digunakannya secara luas akses Internet broadband.

Broadband merupakan istilah yang sudah lama dikenal, khususnya di kalangan pengguna Internet. Secara sederhana, broadband dapat diartikan sebagai jalan yang lebar untuk koneksi Internet, sehingga memberikan akses yang jauh lebih cepat dibandingkan yang didapatkan dari koneksi modem dial-up biasa. Selain itu, broadband dikenal juga sebagai koneksi tanpa putus ( always on ). Kecepatannya, biasanya, 10-20 kali dibandingkan kecepatan modem dial-up yang ada saat ini. Kalau modem dial-up bekerja antara 30 hingga 50 Kbps ( kilobits per second ), maka koneksi broadband bekerja antara 256 Kbps dan 10 Mbps, tergantung layanan yang dipilih.

Di Indonesia layanan broadband dipelopori oleh PT Telkom Tbk., sebagai penyelenggara jasa telekomunikasi terbesar, dimana setelah sukses melakukan digitalisasi jaringan PSTN, Telkom memperkenalkan plaftform ISDN ( integrated services digital network ), yang bernama Pasopati (paduan solusi kecepatan tinggi). ISDN, semula ditujukan sebagai terobosan layanan broadband yang dapat mengakomodasikan baik layanan suara, data maupun video sekaligus. Namun, kurang berhasil dalam penerapannya di lapangan.

Belakangan, Telkom mengembangkan layanan broadband yang disebut Speedy, yang memiliki kecepatan downstream 384 Kbps dan upstream 64 Kbps. Meski belum pas dikatakan broadband sebagaimana definisi di atas, namun layanan Speedy dan layanan broadband lainnya merupakan awal pendorong perkembangan broadband di Indonesia. Namun, ke depan, tentu kapasitas dan kecepatannya akan terus ditingkatkan. Tetapi, harganya pun mestinya lebih murah dibandingkan yang sekarang.

Maraknya operator incumbent yang memperkenalkan broadband dengan memanfaatkan teknologi ASDL ( asymmetric digital subscriber line ), sekaligus juga sebagai pendorong perkembangan bisnis telekomunikasi, baik di dunia maupun di Indonesia, yang mulai stagnan pertumbuhannya. Korea Telecom (Korsel), NTT Japan, British Telecom, France Telecom, Deutsche Telecom AG, Cina Telecom, Verizon (USA) dan ratusan pemain baru CLEC ( competitive local exchange carrier ) merupakan beberapa operator dunia yang telah mengambil manfaat bisnis dari penggunaan teknologi broadband xDSL ini. Tercatat, pada tahun 2003, sekitar 65 persen dari 100 juta pelanggan akses broadband di seluruh dunia menggunakan xDSL.

Ke depan, banyak kalangan menyetujui eranya akan menjadi era broadband, yang kapasitas dan teknologinya akan terus berkembang. Akses Internet berkapasitas besar itu diperkirakan, bahkan, akan semakin mendorong atau pemicu perkembangan berbagai bisnis lainnya, termasuk bisnis konten. Akses Internet berkapasitas besar, tentu saja tak akan banyak manfaatnya, kalau pada saat yang sama, tak diikuti dengan, misalnya perkembangan konten, ketersediaan layanan yang murah, dan mudah didapatkan.

Karenanya, era broadband ini nantinya akan ditandai dengan berkembangnya berbagai aplikasi yang membutuhkan bandwidth besar ( new bandwidth-intensive applications ), antara lain video dan music-on-demand, multi-player online games, voice dan video communications, serta online shopping and learning . Layanan-layanan yang sebelumnya sulit berkembang, karena kecepatan aksesnya sangat lambat dan kurang mendukung berbagai aplikasi berkapasitas besar, diperkirakan akan mendapatkan momentum baru perkembangannya.

Tetapi, para ahli memperkirakan era ini tak akan berlangsung lama, paling-paling sekitar 5 tahun dan kemudian akan tergantikan oleh era yang lebih baru, yang disebut BOD ( bandwidth-on-demand ). Pada era baru itu, kebutuhan bandwidth akan semakin mudah didapat dan berkapsitas jauh lebih besar. Ibarat air, bandwidth nantinya akan mengalir seperti air yang keluar dari kran air. Tersedia kapan dibutuhkan dan dengan biaya yang akan disesuaikan pada besarnya kapasitas bandwidth yang digunakan.

Perkembangan era ini terlihat dari semakin intensifnya negara-negara maju mengembangkan broadband, meski perkembangan yang spektakular justru terjadi di kawasan Asia . Korea Selatan merupakan salah satu contoh negara di mana perkembangan layanan broadband-nya sangat spektakular dan sekaligus menjadi model yang mendapat perhatian banyak negara lain di dunia. Selain ketersediaan infrastruktur broadband yang luas, kemajuan industri kontennya juga bersinergi dengan perkembangan tersebut.

Simak saja apa yang telah dicapai negeri ginseng ini. “Dalam kurun waktu dua setengah tahun ke depan, kami berharap lebih dari 70 persen rumah tangga di Korea Selatan ini telah memiliki koneksi Internet berkecepatan akses 20 Mbps, yang memungkinkan mereka men download film yang dapat mereka tonton di high-definition TV,” ujar Chin Daeje, Menteri Informasi dan Komunikasi Korea , yang juga mantan eksekutif Samsung Electronics. “Tahun 2010, sebagian besar rumah tangga Korea sudah akan bermigrasi ke kecepatan 100 Mbps,” ujarnya lebih lanjut.

Selain itu, pemanfaatannya juga tampak bervariasi. Diperkirakan sepertiga pengguna Internet Korea secara regular menikmati berbagai hiburan berbasis broadband, misalnya network games, videos on demand dan movies on demand . Begitu juga, TV-TV lokal menyediakan kemungkinan men download beberapa program yang sudah lewat dengan biaya yang sangat murah, hanya 80 sen dolar. Download film juga memberi pendapatan baru, baik kepada para produser film maupun perusahaan TV.

Begitu maraknya, sehingga diperkirakan trafik puncaknya lima kali lebuh besar dari yang terjadi di Amerika. “Korea berada paling depan dalam revoluasi broadband, sehingga perusahaan-perusahaan telekomunikasi dunia, bahkan dari Amerika, belajar dari pengalaman Korea ini,” ujar Renee Gamble, analis telekomunikasi Asia dari perusahaan riset teknologi IDC, Singapura.

Evolusi Jaringan Broadband

WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access) dan LTE (Long Term Evolution) adalah teknologi internet berkecepatan tinggi yang banyak dibicarakan saat ini. Tapi, 30 juta pengguna internet di Indonesia tampaknya belum bisa menikmatinya dalam waktu dekat. Pasalnya kedua teknologi itu masih tenggelam dalam wacana dan proses yang berlarut-larut.

Untungnya beberapa operator seluler tak mau berpangku tangan. Telkomsel dan Indosat baru-baru ini memperkenalkan teknologi bernama High Speed Packet Access Plus (HSPA+).

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengatakan, penerapan HSPA+ adalah bagian dari evolusi jaringan perseroan untuk menyelenggarakan mobile broadband, karena pada tahun depan teknologi Long Term Evolution (LTE) mulai diujicobakan.

HSPA+ bukanlah nama yang muncul secara tiba-tiba. HSPA adalah keluarga 3G yang merupakan gabungan dari protokol High Speed Downlink Packet Access (HSDPA) dan High Speed Uplink Packet Access (HSUPA). HSDPA sudah diadopsi hampir semua operator. Tapi masalahnya, koneksi semakin lambat seiring bertambahnya pelanggan.

Kehadiran HSPA+, yang spektrumnya lebih luas daripada HSDPA dan HSUPA, diharapkan bisa menjadi solusi. HSPA+ dikenal dengan nama HSPA Evolution atau Internet HSPA. Protokol ini mendukung teknologi multiple input multiple output (MIMO) dan modulasi yang lebih tinggi.

Alhasil HSPA+ menghasilkan spektrum downlink dan uplink yang lebih besar. HSPA+ mendongkrak transfer downlink dari 14 megabit per detik (Mbps) menjadi 21 Mbps per frekuensi 5 MHz. Itu baru generasi awal.

“Rilis tujuh dan delapannya malah akan mencapai kecepatan 42 Mbps dan 80 Mbps serta bisa bersaing dengan LTE,” kata Harry Nugraha, Country Manager Qualcomm Indonesia, vendor chip dan modul untuk 3G.

LTE pun sebetulnya masih satu keluarga dengan HSPA dan HSDPA. Ia malah menawarkan kecepatan sampai 100 Mbps. Namun, untuk beralih ke teknologi ini, operator harus menanamkan investasi yang sangat besar untuk infrastrukturnya.

Sedangkan untuk HSPA+, “Infrastruktur yang ada sekarang sudah kompatibel,” kata Harry. “Saya kira HSPA+ lebih masuk akal bagi operator saat ini.”

Barangkali hal itu pula yang mendasari Telkomsel meluncurkan layanan HSPA+ pada 4 November lalu. Perusahaan ini menganggarkan 10 persen dari belanja modal (Capex) 2009, yang besarannya mencapai Rp 13 triliun.

Telkomsel telah mendapatkan slot frekuensi carrier 3G kedua sebesar 5 MHz pada September lalu. Slot anyar ini bakal dikhususkan untuk data sehingga keluhan umum pengguna Internet bergerak soal koneksi yang lemot bisa dihindari.

Adapun Indosat, yang akan memulai layanan HSPA+ pada akhir tahun ini, tak membagi-bagi frekuensinya seperti itu. Indosat akan memakai total 10 MHz frekuensi 3G-nya untuk layanan HSPA+.

Namun, menurut praktisi telematika Raherman Rahanan, HSPA+ hanyalah gimmick pemasaran karena banyak keterbatasan dalam mengaksesnya. “Banyak kendala untuk menikmati kecepatan akses ini secara ideal.”

Praktisi telematika lainnya, Ventura Elisawati, menukas, “Bagi saya, gembar-gembor publikasi teknologi ini kemungkinan hanya untuk memoles citra perusahaan saja. Keduanya kan sempat bermasalah dengan pelanggan terkait kualitas layanan,”

“Jangan dipikir mendapatkan kecepatan maksimum itu (21 Mbps) oleh semua pelanggan. Itu ada kondisi tertentu yang harus dipenuhi,” kata dia.

Kondisi itu antara lain menggunakan modem yang mendukung HSPA+ dan kondisi sinyal sangat optimum, misalnya berada dalam radius 300 meter di sekitar menara BTS.

Ketua Bidang Riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Eka Indarto menyarankan operator lebih mendahulukan audit perangkat sebelum menjalankan teknologi baru karena risiko yang ditanggung akan berat. Apalagi nilai investasi yang ditanamkan cukup besar.

Head of Sales NSN Indonesia Henrik Brogaard menyebutkan operator yang mengusung teknologi GSM memang harus berevolusi ke HSPA+ dengan hanya menambahkan perangkat lunak.

Presiden Direktur Ericsson Indonesia Arun Bansal mengungkapkan HSPA+ adalah evolusi alami dari sistem GSM yang digunakan oleh mayoritas operator di dunia. HSPA+ memberikan konektivitas telekomunikasi data yang lebih baik untuk pelanggan.

Tetapi, “Dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan, LTE akan menjadi solusi untuk masalah layanan data. Masalah di LTE itu nantinya adalah ketersediaan dari spektrum frekuensi,” kata dia.

Yang jelas, Indonesia baru memulai. Padahal koneksi HSPA dan HSPA+ sudah banyak diadopsi di berbagai tempat di dunia. Saat ini ada lebih dari 150 juta koneksi pada 236 jaringan di 104 negara.

Jaikishan Rajaraman, Direktur Senior Services GSM Association, mengatakan implementasi HSPA terus bertumbuh dan diharapkan pada 2012 jumlah penggunanya akan mencapai 1 miliar. Nilai ARPU (pendapatan rata-rata per user) memang akan turun dari US$ 48 menjadi US$ 24 pada 2011. Namun, biaya infrastruktur jaringan juga akan turun 3-5 persen per tahun. “Demikian pula harga modul HSPA, turun dari US$ 70 menjadi US$ 35,” tutur Rajaraman dalam sebuah diskusi terbatas di Jakarta beberapa waktu lalu.

Rajaraman mengatakan lebih lanjut, jaringan pita lebar telah ikut mendorong pertumbuhan ekonomi. Setiap 10 persen penetrasi jaringan pita lebar telah ikut menaikkan gross domestic product sebesar 1 persen.

Layanan Broadband
xDXL

Definisi xDSL
DSL adalah Teknologi akses data yang menggunakan saluran kabel tembaga untuk layanan broadband. Sedangkan x-DSL singkatan umum untuk berbagai jenis DSL atau Digital Subscriber Line.
• “x” berarti tipe/jenis teknologi: HDSL, ADSL, IDSL, SDSL, VDSL, dan lain-lain.
• x-DSL mampu membawa informasi suara dan data (termasuk gambar atau video), untuk data dengan kecepatan bervariasi (128 Kbps hingga 8 Mbps).
• x-DSL menyediakan  bandwidth frekuensi secara dedicated (no-share bandwidth).
xDSL memiliki beragam definisi yang dapat ditemukan di berbagai literatur baik secara offline maupun online (internet)
Dari beberapa definisi tersebut dan dari beberapa sumber yang lain, maka dapat disimpulkan bahwa xDSL:
• Merupakan famili teknologi yang menyediakan transmisi data digital pada jaringan tembaga.
• Merupakan singkatan umum untuk berbagai jenis tipe DSL
• Merujuk pada penggunaan teknologi antara  peralatan pelanggan telepon dan STO, memungkinkan penggunaan bandwidth yang besar pada jaringan lokal akses telepon eksisiting.
• Adalah sebuah teknologi yang secara dramatis meningkatkan kapasitas digital saluran telepon biasa (local loop).
• Adalah Teknologi akses yang menggunakan saluran kabel tembaga eksisting untuk layanan broadband.
• Tujuan utama dari xDSL adalah untuk menyediakan layanan pita lebar untuk residensial dan perkantoran.
• DSL dan xDSL adalah terminologi umum untuk semua jenis-jenis dari Digital Subscriber Lines.
Alasan Penggunaan Teknologi xDSL
Ditinjau dari Aspek Layanan dan Operasional
• x-DSL mempunyai Bite Rate yang tinggi (asymetric dan symetric)
• x-DSL dapat melayani multi media akses (suara, data, video) secara simultan.
• x-DSL menggunakan aplikasi Mode IP dan ATM
• x-DSL memanfaatkan jaringan tembaga (saluran telepon eksisting / yang telah terpasang)
• x-DSL  mudah dipasang dan langsung dapat dipakai
• x-DSL mudah diinstalasi
Beberapa keuntungan xDSL
• Menggunakan infrastruktur (kabel pair)  eksisting.
o Layanan dapat seketika diberikan kepada setiap pelanggan yang telah mempunyai sambungan telepon baik perumahan maupun bisnis/perkantoran.
o Tidak perlu meng-upgrade sentral seperti layanan ISDN, karena trafik DSL tidak masuk ke sentral.
o Layanan baru yang diberikan tidak mengganggu layanan telepon eksisting (ADSL).
Mampu memberikan kanal akses digital kecepatan tinggi secara dedicated untuk setiap pelanggan
Jenis-jenis xDSL

Contoh beberapa jenis xDSL
Terdapat beberapa jenis teknologi DSL berdasarkan perbedaan kecepatan data dan jarak maksimum yang disebabkan usaha untuk meningkatkan kecepatan pengiriman data dengan menggunakan jaringan telepon yang ada (lihat Tabel: tipe xDSL). Berikut adalah beberapa contoh teknologi xDSL :
1. HDSL (High Bit-Rate Digital Subscriber Line)
2. VDSL (Very high bit-rate DSL)
3. SDSL (Single-line / Symmetrical DSL)
ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line)

HDSL
HDSL merupakan sebuah sistem untuk mengirimkan T1/E1 melalui saluran kawat twisted-pair. HDSL memerlukan bandwidth yang lebih kecil dan tidak memerlukan repeater. Dengan menerapkan teknik modulasi yang lebih baik, HDSL dapat mengirimkan data dengan transfer rate 1,544 Mbps atau 2,048 Mbps hanya dengan bandwidth sekitar 80 kHz hingga 240 kHz atau lebih kecil

Sonet


Synchronous Optical NETwork (SONET) atau yang biasa disebut Jaringan Optik Sinkron merupakan seperangkat standar yang mendefinisikan berbagai kecepatan dan format untuk jaringan-jaringan optic sebagaimana diatur dalam ANSI nomor T1.105, T1.106 dan T1.117 Hirarki Digiatal Sinkron (Synchronous Digital Hierachy) (SDH) adalah sebuah standar yang berpadanan dengan SONET yang didefinisikan oleh ITU-T dan digunakan secara umum di Eropa.
Keuntungan SONET (Synchronous Optical Networking) :
• Dapat memberikan fungsionalitas yang bagus baik pada jaringan kecil, medium, maupun besar.
• Collector rings menyediakan interface ke seluruh aplikasi, termasuk local office, PABX, access multiplexer, BTS, dan terminal ATM.
• Manejemen bandwith berfungsi untuk proses routing, dan manajemen trafik.
• Jaringan backbone berfungsi menyediakan konektifitas untuk jaringan jarak jauh.
• Memiliki fitur redudansi yang mirip dengan FDDI.

Kesimpulan

Broadbnad dideskripsikan sebagai kumunikasi data yang memiliki kecepatan tinggi, kapasitas tinggi menggunakan DSL, Modem kabel, Ethernet, Wireless Access, Fiber Optik, W-Lan, V-Sat dan sebagainya. Factor pendorong broadband dapat dilihat dari tingkat kepentingan dari beberapa piha, seperti: pemerintah, penyelengggara komunikasi, dan konsumen sedangkan teknologi broadband meliputi pengembangan teknologi existing, infastruktur baru, maupun wireless. Beberapa contoh teknologi broadband adalah x-DSL(ADSL, HDSL, SDSL, SHDSL, IDSL, VDSL, REDSL, RADSL dan lain-lain), dan Sonet dan masih bayak lagi yang lainnya.
Aplikasi broadband dapat berupa layanan propesional, layanan public, layanan komersila dan layanan hiburan.

Penutup
Demikian makalah ini kami susun dengan harapan dapat memenuhu tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah yang bersangkutan. Besar harapan kami agar kiranya dosen yang bersangkutan dapa memberikan nilai sesuai dengan hasil kerja kami dan memberikan masukan berupa perbaikan dan saran-saran yang bersifat membangun imajinasi kami agar dapat membuat makalah yang lebih baik lagi. Akhirkata penyusun mengucapkan banyak terimakasih atas kerjasamanya. wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.